Kalkulator BMI mungkin mulai dicari setelah sadar ada satu perubahan sejak punya pasangan: berat badan perlahan ikut naik. Dulu makan malam cukup seadanya, sekarang sedikit-sedikit ada agenda kulineran, pesan makanan, atau mencoba tempat makan baru.
Belum lagi kalau akhir pekan identik dengan makan di luar. Awalnya mungkin tidak terasa, sampai suatu hari naik timbangan dan angkanya sudah berbeda beberapa kilogram.
Apakah punya pasangan memang bikin gemuk? Tentu tidak sesederhana itu. Bisa jadi yang berubah justru kebiasaan sehari-hari.
Kencan Seringnya Kulineran
Coba hitung berapa banyak aktivitas bersama pasangan yang akhirnya berhubungan dengan makanan.
Mau ketemu? Cari tempat makan.
Malam minggu? Coba restoran baru.
Bingung mau melakukan apa? Pesan makanan sambil menonton film.
Makanan memang menjadi salah satu pilihan paling mudah untuk menikmati waktu bersama. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
Namun, kalau frekuensinya semakin sering sementara aktivitas fisik berkurang, perubahan berat mungkin mulai terasa.
Apalagi kalau kebiasaan ini berlangsung selama berbulan-bulan.
Porsi Ikutan Berubah
Selain frekuensi makan di luar, tanpa sadar porsi juga bisa ikut berubah.
Misalnya, salah satu terbiasa memesan makanan dalam jumlah banyak. Lama-kelamaan, pasangan ikut terbiasa dengan porsi yang sama.
Ada juga kebiasaan saling menawarkan makanan.
“Habiskan saja, sayang kalau tersisa.”
Kalimat sederhana seperti ini terdengar sepele. Namun, kalau sering terjadi, seseorang bisa makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.
Bukan berarti harus mulai menghitung setiap suapan. Cukup lebih peka terhadap rasa lapar dan kenyang.
Coba Cek Kondisi Dulu
Kalau berat memang terasa berubah, tidak perlu langsung mengajak pasangan diet bersama.
Mulai dengan mengecek kondisi masing-masing.
Timbang berat badan, ukur tinggi badan jika belum yakin, lalu gunakan kalkulator BMI untuk mendapatkan gambaran awal.
Hasil BMI dapat membantu melihat hubungan antara berat dan tinggi badan.
Namun, angka tersebut bukan penilaian lengkap mengenai kesehatan.
BMI juga tidak membedakan berat yang berasal dari lemak dan massa otot. Jadi, hasilnya tetap perlu dilihat bersama kebiasaan dan kondisi tubuh lainnya.
Jangan Bandingkan BMI
Sudah cek BMI berdua? Hindari menjadikannya kompetisi.
Hasil pasangan mungkin berbeda meskipun pola makan dan aktivitas sehari-hari hampir sama.
Kondisi tubuh setiap orang memang tidak identik.
Karena itu, target yang dibuat juga tidak harus sama.
Satu orang mungkin ingin menurunkan berat badan. Pasangannya justru ingin meningkatkan massa otot atau sekadar menjadi lebih aktif.
Lebih baik fokus pada perkembangan masing-masing daripada sibuk menentukan siapa yang memiliki angka lebih bagus.
Date Tidak Harus Makan
Kalau hampir setiap kencan berakhir di restoran, sesekali coba ganti aktivitas.
Tidak harus sesuatu yang ekstrem.
Jalan santai di taman, keliling area kota, bermain olahraga tertentu, atau pergi ke gym bersama juga bisa menjadi pilihan.
Bahkan aktivitas sederhana yang membuat tubuh lebih banyak bergerak sudah memberikan suasana berbeda dari duduk berjam-jam di kafe.
Makan bersama tetap boleh.
Bedanya, sekarang aktivitas bersama tidak selalu harus berpusat pada makanan.
Coba Olahraga Bareng
Punya teman olahraga bisa membuat latihan terasa lebih menyenangkan.
Kalau biasanya malas pergi ke gym sendirian, ajak pasangan ikut latihan.
Tidak harus menjalankan program yang sama.
Satu orang bisa melakukan strength training sementara yang lain memilih kardio. Bisa juga mengikuti kelas olahraga bersama jika ingin aktivitas yang lebih seru.
Yang penting, olahraga tidak berubah menjadi ajang saling memaksa.
Kalau salah satu sedang tidak bisa latihan, bukan berarti yang lain juga harus melewatkannya.
Jangan Jadi Polisi Makanan
Ketika salah satu mulai serius menjaga berat badan, ada godaan untuk ikut mengatur makanan pasangan.
“Jangan makan itu.”
“Kemarin sudah makan manis.”
“Bukannya lagi diet?”
Walaupun niatnya mungkin baik, terlalu sering mengomentari makanan justru bisa membuat perubahan gaya hidup terasa tidak nyaman.
Lebih baik saling mendukung lewat kebiasaan.
Misalnya, memilih tempat makan yang punya lebih banyak pilihan, memasak bersama, atau tidak selalu memesan camilan ketika menonton film.
Perubahan kecil seperti ini terasa lebih natural daripada saling mengawasi isi piring.
Jangan Terobsesi Angka
Setelah mulai rutin menggunakan kalkulator BMI, jangan sampai setiap perubahan kecil membuat panik.
Berat badan memang dapat berubah.
Lebih berguna melihat tren dalam periode tertentu daripada mempermasalahkan angka setiap hari.
Selain BMI, perhatikan juga perkembangan lainnya.
Apakah tubuh terasa lebih aktif? Apakah latihan mulai lebih kuat? Apakah jalan jauh tidak lagi terasa melelahkan?
Progres seperti ini tidak selalu muncul dalam angka BMI.
Bikin Kebiasaan Baru Bareng
Hubungan sering membawa kebiasaan baru.
Kalau sebelumnya kebiasaan barunya adalah mencoba restoran setiap akhir pekan, tidak ada salahnya menambahkan kebiasaan lain yang membuat tubuh lebih aktif.
Misalnya, menentukan satu atau dua hari untuk olahraga bersama.
FIT HUB memiliki berbagai fasilitas dan pilihan latihan, mulai dari kardio hingga strength training, yang bisa disesuaikan dengan tujuan masing-masing.
Sesekali, kalkulator BMI juga dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran perubahan berat badan.
Namun, tidak perlu mengubah hubungan menjadi kompetisi hidup sehat.
Tetap kulineran, tetap menikmati akhir pekan, tetapi imbangi dengan aktivitas yang membuat tubuh bergerak.
Siapa tahu, agenda kencan berikutnya bukan lagi bingung mau makan di mana, tetapi bingung mau latihan apa.