Mau Buka Petshop? 5 Rahasia Ini Wajib Kamu Tahu Dulu (Biar Nggak Rugi!)

Bisnis petshop atau produk hewan peliharaan terlihat menjanjikan karena kebutuhan pemilik hewan tidak berhenti pada makanan. Produk seperti pasir kucing, vitamin, aksesori, perlengkapan grooming, hingga kebutuhan kesehatan juga memiliki pasar tersendiri. Namun, memulai bisnis ini tidak cukup hanya dengan menyediakan produk yang sedang populer.

Calon pemilik petshop perlu memahami karakter konsumen, keamanan produk, pengelolaan stok, sampai regulasi yang berlaku. Berikut lima hal yang sebaiknya diketahui sebelum memulai bisnis petshop atau produk hewan peliharaan.

1. Tentukan Segmen Hewan dan Kebutuhan yang Ingin Dilayani

Kesalahan yang cukup umum dalam bisnis petshop adalah mencoba menjual semua jenis produk sejak awal. Padahal, kebutuhan pemilik kucing tentu berbeda dengan pemilik anjing, burung, ikan, reptil, atau hewan kecil lainnya.

Karena itu, tentukan terlebih dahulu segmen utama yang ingin dilayani. Misalnya, petshop dapat berfokus pada kebutuhan kucing seperti makanan, litter, pasir, kandang, scratching post, hingga produk grooming.

Segmentasi juga membantu menentukan lokasi, supplier, harga, dan strategi pemasaran. Petshop yang berada di kawasan apartemen, misalnya, mungkin lebih cocok menyediakan produk berukuran praktis dan layanan antar karena pelanggan memiliki keterbatasan ruang serta membutuhkan kemudahan.

2. Jangan Menganggap Semua Produk Hewan Peliharaan Sama

Produk petshop memiliki tingkat risiko dan persyaratan yang berbeda. Makanan atau pakan, obat hewan, serta produk hewan tertentu tidak bisa diperlakukan sama seperti aksesori biasa.

Kementerian Pertanian menyediakan sistem SIMPOL PKH yang mencakup layanan seperti pendaftaran pakan dalam negeri dan impor, izin pendaftaran obat hewan, serta registrasi produk hewan. Sistem tersebut juga menyediakan daftar produk yang telah memperoleh persetujuan izin edar.

Artinya, pemilik petshop perlu memeriksa legalitas dan status produk sebelum memasukkannya ke dalam katalog. Jangan hanya memilih supplier berdasarkan harga murah. Pastikan produk memiliki informasi yang jelas, termasuk produsen, distributor, label, masa berlaku, dan perizinan yang diperlukan.

Hal ini semakin penting jika bisnis berencana menjual produk impor. Pemerintah, misalnya, menetapkan persyaratan kesehatan tertentu untuk pemasukan pakan hewan peliharaan dari luar negeri. Bagi pemilik petshop yang ingin melakukan import barang dari China, pemeriksaan dokumen, standar produk, dan ketentuan pemasukan tetap perlu dilakukan sebelum barang dipesan dalam jumlah besar.

3. Perhatikan Stok dan Masa Kedaluwarsa

Persediaan adalah salah satu tantangan penting dalam bisnis petshop. Produk makanan hewan memiliki masa kedaluwarsa sehingga pembelian dalam jumlah besar tidak selalu berarti lebih menguntungkan.

Pemilik bisnis perlu mengetahui produk mana yang memiliki perputaran cepat dan mana yang cenderung lambat. Data penjualan dapat digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan berikutnya sehingga modal tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk stok.

Sistem first expired, first out (FEFO) juga dapat diterapkan untuk produk yang memiliki tanggal kedaluwarsa. Produk dengan masa kedaluwarsa paling dekat perlu diprioritaskan untuk dijual terlebih dahulu.

Pengelolaan stok menjadi semakin penting karena bisnis petshop tidak hanya menjual produk. Jika stok terlalu sedikit, pelanggan dapat beralih ke kompetitor. Sebaliknya, stok berlebihan meningkatkan risiko produk rusak atau kedaluwarsa.

4. Bangun Hubungan dengan Supplier yang Bisa Dipercaya

Supplier bukan sekadar tempat membeli barang dengan harga murah. Kualitas dan konsistensi supplier dapat memengaruhi reputasi petshop secara langsung.

Sebelum bekerja sama, periksa asal produk, konsistensi pasokan, minimum order, sistem retur, waktu pengiriman, hingga dokumen produk. Untuk produk yang membutuhkan registrasi atau izin tertentu, kelengkapan administrasi juga perlu diperhatikan. Selain itu, pemilik usaha dapat mempertimbangkan produk asuransi yang sesuai untuk membantu mengelola risiko usaha, terutama ketika bisnis mulai memiliki persediaan bernilai besar atau aktivitas pengiriman dari supplier yang semakin sering.

Kementerian Pertanian sendiri menempatkan keamanan dan mutu pakan sebagai bagian penting dalam pengawasan. Modul resmi Direktorat Pakan menjelaskan bahwa pakan yang beredar harus memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal serta menerapkan cara pembuatan pakan yang baik.

Dengan supplier yang kredibel, pemilik petshop tidak hanya mendapatkan produk, tetapi juga mengurangi risiko menjual barang yang kualitas atau asal-usulnya tidak jelas.

5. Layanan Bisa Menjadi Pembeda dari Kompetitor

Persaingan bisnis petshop tidak selalu dimenangkan oleh toko dengan produk paling lengkap. Pelayanan dapat menjadi alasan pelanggan kembali berbelanja.

Petshop dapat memberikan nilai tambah melalui konsultasi dasar mengenai pilihan produk, layanan grooming, pengantaran, sistem langganan makanan, atau pengingat pembelian rutin. Untuk produk tertentu, edukasi juga penting agar pelanggan tidak sekadar membeli karena mengikuti tren.

Pendekatan ini dapat membangun hubungan jangka panjang karena kebutuhan hewan peliharaan bersifat berulang. Pemilik kucing, misalnya, perlu membeli makanan dan pasir secara berkala.

Kesimpulan

Memulai bisnis petshop membutuhkan lebih dari sekadar modal dan lokasi toko. Pemilik bisnis perlu menentukan target pasar, memahami karakter setiap produk, mengelola stok dengan baik, memilih supplier yang terpercaya, dan membangun layanan yang membuat pelanggan ingin kembali.

Dari sisi regulasi, calon pelaku usaha juga perlu mengikuti ketentuan terbaru. Kementerian Pertanian masih memperbarui regulasi terkait sektor pakan dan peternakan; pada 2026, misalnya, diterbitkan Permentan Nomor 11 Tahun 2026 yang mengatur pemasukan dan pengeluaran bahan pakan asal tumbuhan. Dengan persiapan tersebut, bisnis petshop tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi dapat berkembang menjadi usaha yang dipercaya oleh pemilik hewan peliharaan.

Tinggalkan komentar